Penegasan ini disampaikan melalui pemberitahuan resmi kepada para alumni untuk menjawab pertanyaan yang sering muncul mengenai kewajiban pulang bagi penerima beasiswa luar negeri tersebut.
Dalam pengumuman itu, Uni Eropa menekankan bahwa kontribusi alumni terhadap negara asal tidak ditentukan oleh lokasi tempat tinggal, melainkan oleh dampak nyata dari ilmu pengetahuan, karya, dan aktivitas profesional yang mereka lakukan.
Delegasi Uni Eropa menyatakan bahwa para alumni diperbolehkan melanjutkan karier di Eropa, baik dengan bekerja maupun melanjutkan pendidikan doktoral. Namun demikian, mereka tetap diharapkan memberi kontribusi positif bagi Indonesia sesuai kapasitas masing-masing.
“Uni Eropa berharap agar semua alumni dapat berkontribusi positif untuk Indonesia, sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing di mana pun mereka berada,” tulis Delegasi Uni Eropa dalam pengumuman tersebut.
Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, menyatakan dukungannya terhadap pandangan tersebut. Ia menilai pernyataan Uni Eropa itu mencerminkan semangat global dari program Erasmus yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sarana kontribusi bagi kemanusiaan.
Wilson, yang merupakan alumni EMJM pada program Masters in Applied Ethics di Utrecht University (Belanda) dan Linköping University (Swedia) tahun akademik 2006–2007, mengatakan bahwa kontribusi alumni tidak semata-mata diukur dari kepulangan fisik ke tanah air.
“Kontribusi itu soal kualitas dan dampak. Alumni yang berkarier di pusat riset dunia atau organisasi internasional juga sedang membawa nama Indonesia di panggung global,” ujarnya, Sabtu (14/3/2026).
Menurut Wilson, alumni yang bekerja di luar negeri dapat berperan sebagai penghubung penting dalam jejaring ilmu pengetahuan, teknologi, serta kerja sama internasional yang bermanfaat bagi Indonesia.
Ia juga menilai bahwa memaksakan kepulangan tanpa adanya ekosistem yang mendukung di dalam negeri justru berpotensi membuat keahlian para lulusan tidak dimanfaatkan secara maksimal.
“Ilmu, pengalaman, dan jaringan internasional yang dimiliki alumni harus dimanfaatkan untuk membangun bangsa. Di mana pun mereka berada, mereka tetap bisa berkontribusi,” katanya.
Pandangan ini sejalan dengan konsep kosmopolitanisme yang dikemukakan filsuf Jerman Immanuel Kant, yang memandang manusia sebagai warga dunia yang dapat berkontribusi melampaui batas negara.
Gagasan serupa juga disampaikan filsuf Amerika Martha Nussbaum, yang menekankan bahwa pendidikan seharusnya membentuk individu yang mampu melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas global.
Melalui pengumuman tersebut, Uni Eropa menegaskan bahwa alumni EMJM, baik yang kembali ke Indonesia maupun yang menetap di luar negeri, tetap memiliki peran strategis dalam memajukan ilmu pengetahuan dan memperkuat kontribusi Indonesia di tingkat internasional. (Tim/red).
Diterbitkan oleh KalbarPos.com (Ya' Syahdan).
