(Jelimpo), KalbarPos.com— Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, memimpin kegiatan penanaman jagung serentak kuartal I tahun 2026 di Desa Nyiin, Kecamatan Jelimpo, Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Polda Kalimantan Barat sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung program swasembada jagung nasional.
Karolin mengatakan jagung menjadi salah satu komoditas strategis karena tidak hanya dibutuhkan untuk konsumsi, tetapi juga sebagai bahan utama pakan ternak. Karena itu, perluasan areal tanam dinilai penting agar daerah tidak terus bergantung pada pasokan dari luar.
Menurut dia, program tanam jagung yang digencarkan pemerintah daerah merupakan langkah nyata untuk memperkuat produksi pangan sekaligus meningkatkan kontribusi Kabupaten Landak terhadap kebutuhan jagung di Kalimantan Barat.
Data pemerintah daerah mencatat luas tanam jagung di Kabupaten Landak pada 2024 mencapai 5.485,2 hektare. Pada 2025, luas tanam ditargetkan meningkat menjadi 8.135,7 hektare atau bertambah sekitar 3.000 hektare.
“Perluasan ini membutuhkan dukungan semua pihak, baik pemerintah, aparat di lapangan, maupun kelompok tani,” ujar Karolin.
Ia menambahkan, program peningkatan luas tanam tetap dijalankan meskipun pemerintah daerah sedang menghadapi keterbatasan fiskal. Dari total APBD Kabupaten Landak sekitar Rp1,2 triliun, daerah ini mengalami pemotongan anggaran hingga Rp240 miliar.
Meski demikian, Karolin menegaskan sektor pangan tidak boleh terabaikan. Menurutnya, pertanian justru harus tetap menjadi prioritas agar ketahanan pangan daerah tetap terjaga.
Pemerintah Kabupaten Landak juga berencana melaksanakan tanam perdana jagung dalam waktu dekat untuk melengkapi demplot yang telah ada. Langkah tersebut diharapkan memastikan perluasan areal tanam benar-benar berjalan di lapangan dan tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial.
Di sisi lain, Karolin mengakui petani masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama kenaikan harga bibit dan pupuk yang dipengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah. Selain itu, terdapat perbedaan harga jual jagung di tingkat pembeli.
Ia menyebutkan harga jagung yang dibeli Badan Urusan Logistik berada di kisaran Rp5.500 per kilogram, sedangkan pengepul lokal dapat membeli hingga sekitar Rp7.000 per kilogram.
Menurut Karolin, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar petani tetap memiliki semangat untuk meningkatkan produksi.
Dalam mendukung program perluasan tanam, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah menyalurkan bantuan benih jagung untuk lahan seluas 150 hektare. Dukungan ini diharapkan dapat terus bertambah sehingga pengembangan jagung di Kabupaten Landak dapat berlangsung lebih cepat dan merata.
Karolin juga menilai penguatan sektor jagung perlu diiringi dengan hilirisasi, terutama melalui pengembangan sektor peternakan ayam. Dengan demikian, hasil panen jagung tidak hanya berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi menjadi bagian dari rantai ekonomi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.
“Harapannya gerakan tanam jagung ini memberi manfaat nyata bagi masyarakat, mulai dari produksi yang meningkat hingga kepastian pasar bagi petani,” kata Karolin. (*)
Diterbitkan oleh KalbarPos com (Ya' Syahdan).
